Tetesan di Cermin kehampaan
Cerita mimpi yang membawa pembaca ke ruang antara langit dan air, di mana refleksi dan pesan kehidupan muncul lewat sosok bayangan.
Sadar berada dalam kegelapan
Malam itu aku sadar berada di kegelapan total, rasanya seperti memejamkan mata dikala tidur namun masih setengah sadar. Awalnya hanya kosong—seperti ruang tanpa batas—lalu ada kesadaran bahwa aku sedang bermimpi. Ada rasa tenang yang aneh, bukan takut, hanya hening yang menunggu sesuatu terjadi.
Munculnya Retakan Cahaya
Di tengah kegelapan muncul retakan kecil yang memancarkan cahaya, seperti tembok yang retak lalu bolong. Aku mendekat tanpa ragu. Begitu menyentuhnya, dimensi berubah, dari gelap gulita menjadi sebuah alam bewarna. Seketika aku berdiri di antara hamparan air dangkal yang memantulkan langit berawan. Permukaan air seperti cermin, datar dan tenang, memantulkan awan-awan kelabu yang bergerak pelan. Ada beberapa bongkahan batu yang muncul dari air, seperti titik-titik kecil di tengah hamparan luas.
Aku berdiri diam. Udara di sana dingin tapi tidak menusuk. Indahnya pemandangan membuat bulu kuduk merinding—bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang familiar namun asing.
Gelembung dan Memori
Di permukaan air, gelembung-gelembung kecil naik perlahan, seperti menguap. Setiap gelembung tampak mengandung riak bayangan bewarna, seperti potongan memori yang bukan milikku. Aku menatap satu demi satu: ada adegan-adegan singkat, wajah-wajah yang tak pernah kukenal, momen-momen yang terasa nyata namun asing. Mereka menguap ke atas dan lenyap, meninggalkan rasa rindu yang aneh.
Aku tidak bisa bergerak banyak. Hanya menonton. Ada keheningan yang berat, seolah setiap gelembung membawa pesan yang tak sempat diucapkan.
Sosok di Belakang
Tiba-tiba aku merasakan keberadaan tajam di belakang. Aku berbalik dan melihat sosok paruh baya—mirip diriku, namun berwajah lebih tua. Wajahnya berkerut, matanya tampak lelah, dan dia mengenakan jas klasik bergaya abad ke-20 serta kacamata bundar. Ada aura tenang dan tegas pada dirinya.
Dia mulai berbicara. Suaranya rendah, lambat, seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu. Aku tidak ingat semua kata-katanya, hanya potongan yang menempel di kepala. Nada bicaranya bukan menggurui, melainkan mengingatkan namun cuek.
Kata-kata yang kuingat:
kamu memang tak punya hal seperti sihir untuk mengubah sesuatu, tapi kamu punya pikiran dan tenaga yang sesungguhnya jauh lebih kuat dari itu, untuk melakukan dan mewujudkannya. Jadi kenapa kamu mengabaikannya?
Kalimat itu mengena. Bukan janji instan, bukan mantra. Hanya pengakuan sederhana bahwa kemampuan nyata ada pada tindakan dan pikiran.
Reaksi dan Perasaan
Aku merasa hangat di dada. Ada campuran lega dan sedih—lega karena ada penegasan, sedih karena terasa terlambat. Sosok itu menatapku lama, lalu mengangguk pelan. Di sekeliling kami, gelembung-gelembung terus naik, memantulkan langit yang berawan. Suasana tetap tenang, hampir sakral.
Aku ingin bertanya banyak hal—mengapa aku di sana, siapa dia sebenarnya, bagaimana caranya menerjemahkan kata-kata itu ke dunia nyata—tapi suara dan bentuk mulai memudar. Langit dan cermin air bergeser perlahan, dan retakan cahaya yang membawaku ke sana mengecil.
Penutup
Sebelum terbangun, aku sempat menoleh sekali lagi. Sosok itu sudah menjauh, namun kata-katanya tetap jelas di kepala. Saat aku membuka mata di ranjang, rasa itu masih ada: bukan mimpi kosong, melainkan pesan yang sederhana dan praktis.
Sekarang, setiap kali aku ragu, aku mengingatnya. Bukan untuk mencari sihir, melainkan untuk mengingat bahwa pikiran dan tenaga yang konsisten bisa mengubah hal-hal nyata. Mimpi itu terasa seperti pengingat—bukan jawaban lengkap, tapi dorongan kecil agar aku mulai melakukan sesuatu, langkah demi langkah.