The Journey with Graven
ketika sisi lain dirimu bertemu dengan dirimu yang sekarang. Itu membantumu meringankan beban yang kamu tanggung
Awal dari Sebuah Mimpi yang Gelisah
Hari ini, aku bermimpi dalam tidurku… sebuah mimpi yang terasa sangat panjang dan mendetail, seolah-olah aku sedang menjalani kehidupan lain yang paralel dengan realitasku sendiri.
Semuanya bermula di lingkungan sekolah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Suasana pagi itu tampak normal, namun ada ketegangan yang tersembunyi di bawah permukaannya. Ada seorang teman sekelas yang sudah lama kukenal; secara fisik dia tampak biasa saja, tetapi kondisi mentalnya tidak stabil. Tanpa ada yang tahu, dia baru saja melakukan tindakan bullying terhadap seorang gadis disabilitas. Karena kasus tersebut belum terungkap, dia tetap datang ke sekolah dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
Disclaimer: Bagaimana aku bisa tahu kalau dia pelakunya dan seluruh latar belakangnya terasa seperti sebuah teater? Karena di dalam mimpi itu, rasanya seperti menonton film yang menampilkan peristiwa di luar karakter utama, sekaligus aku menjadi aktor utamanya sendiri.
Namun, di tengah hiruk-pikuk sekolah, dia tiba-tiba melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia memutarbalikkan kenyataan dan menudingkan jarinya ke arahku. Dengan narasi yang entah bagaimana terdengar sangat meyakinkan, dia menghasut orang-orang di sekitarku hingga mereka mulai memandangku dengan penuh rasa curiga dan penghakiman. Aku hanya berdiri di sana, terdiam dan kebingungan, karena aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Di tengah situasi yang menyudutkan ini, teman sekelas tersebut mendekatiku dan menatapku dengan wajah tanpa beban. Dengan santai dia berkata, “Masuk penjara saja dulu gantiin aku; lagipula itu cuma sebentar kok. Nanti, baru giliranku.”
Entah karena tekanan yang begitu kuat atau karena kepolosan tertentu saat itu, aku hanya mengangguk setuju. Aku membiarkan diriku menjadi kambing hitam atas perbuatan yang tidak pernah kulakukan. Singkat cerita, kasusku diproses dan aku dijadwalkan untuk dikirim ke pusat penahanan remaja.
Hari penjemputan pun tiba. Sebuah mobil sudah menunggu untuk membawaku ke fasilitas penahanan. Di balik kemudi, duduk seorang pria bernama Graven. Dia adalah petugas yang ditugaskan untuk mengawal orang-orang sepertiku ke balik jeruji besi. Wajahnya tampak serius namun tenang. Aku masuk ke kursi penumpang, dan perjalanan yang berat pun dimulai.
Saat aku duduk membisu di kursi belakang mobil sedan itu, samar-samar aku melihat penampilan Graven—begitu namanya—tampak seperti versi diriku yang lebih dewasa, hmm, mungkin sekitar usia 28–30 tahun. Rasanya seolah ada hubungan misterius yang mengikat kami. Sementara itu, ketika melihat pantulan diriku di jendela mobil, aku tampak sama seperti sekarang, seorang remaja di kehidupan nyata.
Di tengah perjalanan, mobil kami melambat saat melewati area pinggir jalan. Dari balik jendela, aku melihat orang tua dari pelaku yang sebenarnya sedang berjualan sebagai pedagang kaki lima. Mata kami bertemu. Mereka menatapku dengan kebencian murni, namun di balik tatapan itu, aku bisa melihat secercah keraguan dan kegelisahan mendalam yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Graven rupanya menyadari saling pandang ini. Dia menangkap kejanggalan yang nyata dari reaksi orang tua tersebut, dan instingnya mulai meragukan statusku sebagai pelaku. Melihat ada seseorang yang akhirnya menggunakan logikanya, keberanianku pun muncul. Aku mulai menceritakan kebenaran kepada Graven—bahwa aku bukanlah pelakunya. Aku menjelaskan betapa sulitnya bagiku untuk membuktikan kebenaran karena aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan tuduhan tersebut.
Graven mendengarkan dengan penuh perhatian. Empatinya perlahan mengalahkan tugas resminya. Dia memutuskan untuk menepikan mobil di sebuah halte bus yang sepi dan terbengkalai di tengah antah-berantah, lalu menyuruhku turun. “Tunggu di sini,” katanya. Dia pergi ke rumah orang tua pelaku untuk mencari bukti, sementara aku duduk di sana dalam keheningan, menunggu sendirian.
Waktu berlalu hingga akhirnya suara mesin mobil Graven kembali terdengar. Dia berhenti tepat di depanku dengan ekspresi wajah yang membuktikan bahwa dia telah menemukan kebenaran. Dia menyuruhku naik kembali, tetapi kali ini arahnya berbeda. Graven memutar kemudi menuju jalan tanah yang berlumpur, dengan sengaja melewati dan meninggalkan bangunan penjara—yang seharusnya menjadi tujuanku—jauh di belakang.
Kami berkendara menyusuri jalan panjang yang tak kuketahui ujungnya. Di dalam dadaku, ada rasa melankolis yang mengalir perlahan, namun di saat yang sama, rasanya begitu membebaskan. Perjalanan melewati lumpur itu justru memberikan rasa damai dan ketenangan yang mendalam, seolah-olah aku baru saja berhasil melarikan diri, meski hanya sesaat, dari cobaan terberat dalam hidup.
Setelah Merenung, Aku Menafsirkannya
Mungkin dari makna cerita ini, aku bisa menafsirkan… bahwa dalam hidup, terkadang aku merasa terlalu mudah untuk menyerah dan membiarkan beban orang lain jatuh ke pundakku, hanya karena aku merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Sosok Graven mungkin adalah bagian dari logikaku sendiri, yang mengingatkan bahwa kebenaran selalu layak untuk diperjuangkan, meskipun jalannya berlumpur dan berliku. Rasa damai di akhir cerita seolah memberi tahu bahwa kebebasan sejati hanya akan terasa saat aku berani jujur pada diri sendiri dan berhenti menjadi korban dari situasi yang tidak adil.
Kesimpulan
Ini bukanlah realitas, melainkan sebuah manifestasi realitas dari sisi lain diri dalamku (inner self) yang selalu berjalan bersamaku di dalam bayang-bayang; yang ketika diberi kesempatan untuk berkomunikasi langsung lewat alam bawah sadar, akan membangun sebuah cerita yang koheren demi menyampaikan pelajaran hidup.